28 Juni 2012

Kebiasaan Menikmati Keindahan Bunga di Jepang

こんにちは、皆さん..
Hanami (Menikmati keindahan bunga Sakura)


Kali ini I'Mc Center Surabaya hadir dengan info baru seputar keberadaan bunga di masyarakat Jepang yang selalu dinikmati keindahannya. Sejak dahulu kala bangsa Jepang selalu menghargai alam dan berusaha hidup selaras dengan alam. Bunga khususnya, mendapat tempat tersendiri dalam kehidupan orang Jepang. Coba kita lihat seni merangkai bunga ikebana yang bersifat alami, kebiasaan menikmati keindahan bunga yang dikenal dengan istilah hanami, adanya berbagai festival yang menonjolkan bunga, seperti festival bunga krisan, pekan bunga asagao (morning glory),dll. Bunga yang paling dikenal pastinya adalah bunga sakura, yang disebut-sebut sebagai salah satu “tanda pengenal Jepang”.


Di dalam Jepang modern sekarang, hanami terutama dimaksudkan sebagai pesta menikmati indahnya bunga sakura, dengan menggelar tikar di bawah pepohonan sakura, duduk dan makan beramai-ramai bersama keluarga atau teman-teman. Hanami menikmati sakura dapat pula berlangsung di malam hari, disebut yozakura (sakura malam). Kegiatan ini  biasanya diadakan di taman-taman umum, berlangsung pada akhir Maret (di Jepang bagian Selatan) atau awal April (di Jepang bagian tengah) (di pulau Hokkaido yang terletak di Utara, Sakura baru muncul pada awal Mei).


Bunga Sakura
Kebiasaan hanami sudah berlangsung berabad-abad, konon mulai di masa Nara (710-784)ketika Jepang masih berada di bawah pengaruh kuat Disnasti Tang China. Pada waktu itu pada awalnya yang dinikmati adalah bunga pohon ume. Bunga ume yang kecil-kecil tidak kalah indahnya dari bunga sakura. Muncul pada akhir musim dingin (akhir bulan Februari) sehingga disebut sebagai pertanda datangnya musim semi. Dapat bertahan sekitar 3 minggu lamanya hingga menjelang akhir bulan Maret. 

Terkadang orang asing bingung membedakan kerimbunan bunga ume dengan bunga sakura yang muncul sesudahnya. Setelah berbunga, pohon ume menghasilkan buah ume yang dapat digunakan sebagai acara atau manisan. Walau bentuk keduanya hampir sama, apalagi ketika sedang mekar menjadi rimbun, memang ada beberapa perbedaan. Secara sekilas bentuk bunganya sama, tapi bila diteliti, di bagian tengah bungan ume muncul tangkai benang sari dan putik yang menjulur, sedangkan pada bunga sakura tidak demikian. Bunga ume harum sedangkan bunga sakura tidak berbau dan mudah rontok.
Bunga Ume
Dalam Genji Monogatari (karya besar sastra yang menggambarkan kehidupan kalangan istana pada abad 11) ada kisah tentang pesta menonton bunga wisteri. Barulah dalam masa Heian sakura mulai menarik perhatian sedemikian rupa sehingga bila orang menyebut “bunga”, maka yang dimaksud adalah bunga sakura. Konon Kaisar Saga yang memerintah dalam Masa Heian melembagakan kebiasaan mengadakan pesta menikmati bunga sakura, seraya minum sake dan sebagainya. Sejak itu pula mulailah orang membuat puisi-puisi pujaan akan keelokan bunga sakura yang lembut. Orang melihat sakura sebagai metafora hidup, indah, mengambang dan hanya berlangsung sebentar saja. Nah, itulah awalnya hanami. Sehubungan dengan hanami ini, secara berolok-olok ada ungkapan hana yori dango, yang artinya kira-kira adalah orang sebenarnya lebih mementingkan makan-makan dan minum-minumnya daripada menikmati keindahan bunganya sendiri.


Bunga Wisteri
Bunga-Bunga Lain:
Bunga Ajisai (hydrangea) muncul di musim hujan (musim hujan tidak terhitung sebagai salah satu musim di Jepang, melainkan merupakan bagian dari musim semi). Ketika baru muncul, ajisai berwarna lila pucat, kemudian menjadi biru tua ketika hujan turun terus-menerus.

Bunga Ajisai
Di bulan September, puncak dari musim gugur di Jepang, merupakan bulan yang penuh keindahan karena dedaunan di pohon-pohon berubah warna menjadi kuning, jingga dan merah. Koyo (dedaunan yamg memerah) di musim gugur sungguh menjadi pemandangan yang luar biasa indah, apalagi dengan latar belakang Gunung Fuji, atau di tengah-tengah kompleks kuil kuno di Kyoto.

Koyo/ Momiji (daun Maple yang memerah saat musim gugur)
Bunga Krisan atau dalam bahasa Jepang disebit Kiku merupakan bunga lambang kekaisaran (lambang ini berupa sebiah bunga krisan dengan 16 petal, berwarna emas). Sekitar bulan September dan Oktober di beberapa tempat di Jepang diselenggarakan festival bunga Krisan dimana dipamerkan berbagai jenis bunga Krisan dengan beraneka warna, juga ada boneka besar pajangan yang dibuat dari bunga krisan (berbentuk tokoh-tokoh masa lalu). Festival bunga krisan yang cukup populer antara lain ada di kota Kitami (pulau Hokaido) dan di kuil Daienji di Tokyo. Bunga mawar juga amat dikenal di Jepang karena merupakan bungan yang dikenal di seluruh dunia.


Bunga Krisan/ Kiku (dalam bahasa Jepang)
Bagi penduduk sekitar Tokyo, kedatangan musim panas ditandai dengan adanya pasar bunga asagao, dan buah hozuki (ceri berwarna jingga kemerahan). Selama tiga hari terdapat seratusan kios yang berjajar di sekitar kuil Kishibojin di distrik Koto, Tokyo yang menjuallebih dari seratus ribu pot tanaman bunga asagao yang berwarna merah, pink, biru, dan nila.


Bunga Asagao

Buah Hozuki yang sudah masak
    
Bunga ini berkembang di pagi hari dan menguncup di tengah hari. di pusat kota Tokyo, ada pula sebuah pasar khusus hozuki yang berlangsung pada tanggal 9-10 di pekarangan Kuil Asakusa Kannon (kuil yang terkenal sebagai sasaran kunjungan wisatawan).

Selain ada hanami, orang Jepang juga menikmati hanabi (pesta kembang api di atas sungai, biasanya di musim panas), dan tsukimi (memandang indahnya bulan purnama, bulan September).


Hanabi yang indah saat malam hari di Jepang

Sumber: Aneka Jepang edisi 318 tahun 2007


Mari belajar Bahasa Jepang di Surabaya
bersama I'Mc Center Surabaya!!! \(^0^)/

0 comments:

Posting Komentar